Cara Menemukan Saham Undervalued Menggunakan Rasio P/E dan Standar Deviasi
nadinugraha
11 Mei 2025
Bagi banyak investor, menemukan saham yang undervalued atau dijual “di bawah harga wajarnya” adalah seperti menemukan permata tersembunyi di pasar yang sibuk. Tapi pertanyaannya: bagaimana cara kita tahu bahwa sebuah saham benar-benar sedang murah, bukan sekadar kelihatan murah? Salah satu pendekatan sederhana tapi cukup efektif adalah dengan menggunakan rasio P/E (Price to Earnings) — sebuah metrik yang membandingkan harga saham saat ini terhadap laba bersih per saham perusahaan tersebut. Tapi daripada hanya melihat apakah P/E kecil atau besar, pendekatan yang lebih tajam adalah membandingkannya dengan riwayat P/E saham itu sendiri.
Melihat ke Belakang untuk Menilai yang Sekarang
Logikanya begini: setiap saham memiliki “zona nyaman” tersendiri dalam hal valuasi. Misalnya, saham sektor consumer goods mungkin punya rata-rata P/E sekitar 15, sementara saham teknologi bisa stabil di P/E 25 atau lebih. Nah, jika kita tahu bahwa P/E sebuah saham biasanya di angka 15, dan saat ini hanya 11, maka itu bisa jadi sinyal awal bahwa saham ini potensial sedang dijual murah. Tapi tentu saja, kita butuh lebih dari sekadar rata-rata. Kita juga perlu tahu seberapa jauh nilai saat ini menyimpang dari kebiasaan historisnya. Di sinilah standar deviasi (standard deviation) berperan.
Apa Itu Standar Deviasi?
Standar deviasi adalah ukuran statistik yang menunjukkan seberapa besar variasi atau penyebaran dari sekumpulan data terhadap rata-ratanya. Dalam konteks P/E, standar deviasi membantu kita memahami: apakah nilai P/E saat ini memang sangat rendah secara tidak biasa, atau hanya sedikit di bawah rata-rata.
Semakin jauh nilai P/E saat ini berada di bawah rata-ratanya (terutama jika lebih rendah dari rata-rata dikurangi 1 atau 2 kali standar deviasi), semakin kuat indikasi bahwa saham tersebut sedang berada dalam kondisi oversold — dijual terlalu rendah oleh pasar.
Contoh Kasus: Apakah Saham Ini Murah?
Bayangkan kamu sedang menganalisis saham fiktif bernama "SampleCorp". Kamu melihat data historis P/E selama 12 bulan terakhir sebagai berikut:
[14, 15, 16, 13, 15, 14, 17, 16, 15, 14, 13, 12]
Catatan :
Angka 12 di atas adalah nilai P/E saham SampleCorp yang terakhir (terbaru).
Setelah dihitung:
- Rata-rata P/E: 14.83
- Standar deviasi: 1.39
Dengan data ini, kita bisa menentukan dua batas penting:
- Batas undervalued ringan (1 SD): 14.83 - 1.39 = 13.44
- Batas undervalued ekstrem (2 SD): 14.83 - (2 × 1.39) = 12.05
Sekarang kita lihat: nilai P/E saat ini adalah 12. Artinya, saham ini:
- Sudah di bawah 1 standar deviasi → mulai dianggap undervalued
- Bahkan di bawah 2 standar deviasi → ini mulai mengarah ke kondisi oversold ekstrem
Dengan kata lain, ada potensi saham ini akan kembali naik ke level rata-ratanya di masa depan, yakni ke sekitar P/E 14.83, jika fundamental perusahaan tetap baik.
Contoh kasus saham BBCA (per tanggal 9 Mei 2025)
Lewat aplikasi BullishPick, kita bisa melihat grafik P/E saham-saham yang kita incar dalam periode tertentu. Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh kasus saham BBCA hingga per tanggal 9 Mei 2025. Grafik pergerakan nilai P/E ratio BBCA dalam kurun waktu 1 tahun adalah sebagai berikut:
Nilai rata-rata P/E Ratio BBCA dalam kurun waktu 1 tahun adalah sekitar 21.4 yang ditandai dengan garis warna hijau, nilai P/E Ratio - 1xStDev. adalah 19.62 yang ditandai dengan garis warna oranye, nilai P/E Ratio - 2xStDev. adalah 17.83 yang ditandai dengan garis warna ungu. Terlihat bahwa nilai P/E Ratio BBCA berfluktuasi dan sempat menyentuh nilai di bawah 17.83 yang kemudian naik kembali hingga per 9 Mei 2025 menjadi 19.41. Jika kita berasumsi bahwa nilai rata-rata P/E Ratio BBCA adalah dimana seharusnya BBCA dihargai, maka per 9 Mei 2025, BBCA masih undervalued, dan harga sahamnya masih berpotensi untuk naik paling tidak hingga mencapai harga wajarnya di Rp 9.850 per lembar saham (P/E 21.4 di tanggal 2 Januari 2025).
Dari Teori ke Praktik: Jangan Hitung Manual, Gunakan Fitur Screener dari BullishPick
Tentu kamu bisa menghitung semuanya pakai spreadsheet. Tapi lebih efisien lagi jika kamu menggunakan aplikasi yang sudah menyiapkan logika ini untukmu. Kabar baiknya, kamu bisa langsung menggunakan fitur Screener Emiten → Undervalued stocks di aplikasi BullishPick — sebuah alat bantu investasi yang saya kembangkan untuk investor ritel.
Screener Undervalued stocks akan menampilkan daftar saham yang nilai P/E Ratio-nya di bawah nilai rata-rata P/E. Setelah mendapatkan daftar sejumlah sahamnya, kamu bisa memulai langkah selanjutnya untuk memilih saham mana saja yang layak untuk investasi dan harganya berpotensi untuk naik.
Jangan hanya beli saham karena harganya turun. Beli karena nilainya lebih rendah dari yang seharusnya. Dan sekarang, kamu tahu cara menemukannya.
Happy investing.